HUT Kabupaten Gunungkidul Ke-181

Hari ini - tanggal 27 Mei 2012 Kabupaten Gunungkidul tepat berusia 181 Tahun. Tak terasa sudah 7 tahun aku meninggalkan tanah kelahiranku ini. Merantau ke pulau seberang mempertaruhkan asa mencari pekerjaan.  Berarti kemeriahan menyambut HUT Kabupaten Gunungkidul sudah tidak aku rasakan lagi selama 7 tahun terakhir :(

Tema hari jadi Gunungkidul kali ini adalah “Dengan Semangat hari Jadi ke 181 Kabupaten Gunungkidul Tahun 2012, Kita Wujudkan Kebersamaan Dalam Rangka Melestarikan Budaya Bangsa Untuk Meningkatkan Daya Tarik Wisata“.

Pemerintah Daerah Kabupaten Gunungkidul  telah menyusun serangkaian acara dalam memeriahkan HUT Gunungkidul ke-181

  • 10 s/d 22 Mei 2012,  Pameran Pembangunan dan panggung hiburan
  • 25 Mei 2012, Jalan sehat dan senam massal
  • 26 Mei 2012 pagi, Fun Bike rute Wonosari, Semanu, Karangmojo dimeriahkan pentas music campursari dengan bintang tamu Thukul Arwana, Tarzan, dkk :D
  • 26 Mei 2012 malam, Pertunjukan wayang kulit semalam suntuk bersama Ki Dalang Mantep Sudarsono dengan bintang tamu Thukul Arwana, Tarzan, Kirun dkk :D
  • 28 Mei 2012 pagi, Upacara Hari Jadi Kabupaten Gunungkidul
  • 28 Mei 2012 siang, Karnaval Pembangunan

Semua acara diatas dipusatkan di alun-alun Pemda Gunungkidul

Sejarah Gunungkidul

Pada waktu Gunungkidul masih merupakan hutan belantara, terdapat suatu desa yang dihuni beberapa orang pelarian dari Majapahit. Desa tersebut adalah Pongangan, yang dipimpin oleh R. Dewa Katong saudara raja Brawijaya. Setelah R Dewa Katong pindah ke desa Katongan 10 km utara Pongangan, puteranya yang bernama R. Suromejo membangun desa Pongangan, sehingga semakin lama semakin rama. Beberapa waktu kemudian, R. Suromejo pindah ke Karangmojo.

Perkembangan penduduk di daerah Gunungkidul itu didengar oleh raja Mataram Sunan Amangkurat Amral yang berkedudukan di Kartosuro. Kemudian ia mengutus Senopati Ki Tumenggung Prawiropekso agar membuktikan kebenaran berita tersebut. Setelah dinyatakan kebenarannya, Tumenggung Prawiropekso menasehati R. Suromejo agar meminta ijin pada raja Mataram, karena daerah tersebut masuk dalam wilayah kekuasaannya.

R. Suromejo tidak mau, dan akhirnya terjadilah peperangan yang mengakibatkan dia tewas. Begitu juga 2 anak dan menantunya. Ki Pontjodirjo yang merupakan anak R Suromejo akhirnya menyerahkan diri, oleh Pangeran Sambernyowo diangkat menjadi Bupati Gunungkidul I. Namun Bupati Mas Tumenggung Pontjodirjo tidak lama menjabat karena adanya penentuan batas-batas daerah Gunungkidul antara Sultan dan Mangkunegaran II pada tanggal 13 Mei 1831. Gunungkidul (selain Ngawen sebagai daerah enclave Mangkunegaran) menjadi kabupaten di bawah kekuasaan Kasultanan Yogyakarta.

Mas Tumenggung Pontjodirjo diganti Mas Tumenggung Prawirosetiko, yang mengalihkan kedudukan kota kabupaten dari Ponjong ke Wonosari.

Menurut Mr R.M Suryodiningrat dalam bukunya ”Peprentahan Praja Kejawen” yang dikuatkan buku de Vorstenlanden terbitan 1931 tulisan G.P Rouffaer, dan pendapat B.M.Mr.A.K Pringgodigdo dalam bukunya Onstaan En Groei van het Mangkoenegorosche Rijk, berdirinya Gunungkidul (daerah administrasi) tahun 1831 setahun seusai Perang Diponegoro, bersamaan dengan terbentuknya kabupaten lain di Yogyakarta.

Dan oleh upaya yang dilakukan panitia untuk melacak Hari Jadi Kabupaten Gunungkidul tahun 1984 baik yang terungkap melalui fakta sejarah, penelitian, pengumpulan data dari tokoh masyarakat, pakar serta daftar kepustakaan yang ada, akhirnya ditetapkan bahwa Kabupaten Gunungkidul dengan Wonosari sebagai pusat pemerintahan lahir pada hari Jumat Legi tanggal 27 Mei 1831 atau 15 Besar Je 1758 dan dikuatkan dengan Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Gunungkidul No : 70/188.45/6/1985 tentang Penetapan hari, tanggal bulan dan tahun Hari Jadi Kabupaten Gunungkidul yang ditandatangani oleh bupati saat itu Drs KRT Sosro Hadiningrat tanggal 14 Juni 1985.

Sedangkan secara yuridis, status Kabupaten Gunungkidul sebagai salah satu daerah kabupaten kabupaten yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri dalam lingkungan Daerah Istimewa Yogyakarta dan berkedudukan di Wonosari sebagai ibukota kabupaten, ditetapkan pada tanggal 15 Agustus 1950 dengan UU no 15 Tahun 1950 jo Peraturan Pemerintah No 32 tahun 1950 pada saat Gunungkidul dipimpin oleh KRT Labaningrat.

Guna mengabadikan Hari Jadi Kabupaten Gunungkidul dibangun prasasti berupa tugu di makam bupati pertama Mas Tumenggung Pontjodirjo dengan bertuliskan Suryo sangkala dan Condro sangkala berbunyi : NYATA WIGNYA MANGGALANING NATA ” HANYIPTA TUMATANING SWAPROJO” Menuruut Suryo sangkala tahun 1831 dibalik 1381, sedang Condro sangkala 1758 dibalik 8571

(sumber : www.gunungkidulkab.go.id)

Dirgahayu Gunungkidul ke-181, Semoga tetap HANDAYANI.. ;)

- ipg

27 Mei 2012 at 1:48 pm Tinggalkan Komentar

Jalan-Jalan Ke Pantai Tuing & Pantai Batu Berdaun

Catatan jalan-jalan minggu kemarin, satu hari dua pantai, mantaf  :)

1.  Pantai Tuing

bibir pantai nan luas

Pantai Tuing terletak tidak jauh dari pantai Deniang. Bedanya kalau pantai Deniang adalah sebuah teluk berpasir putih berhias batu-batu granit yang kokoh berdiri di sisi-sisi pantai sedangkan pantai Tuing adalah sebuah tanjung berpasir putih  luas tanpa ada batuan yang menghiasinya.

Pantai ini tergolong indah, bibir pantai berpasir putih yang luas & panjang (kira-kira 5 km) menjadikan daya tarik tersendiri bagi pantai ini. Cocok bagi anda yang suka menikmati pantai sembari berlari-larian bermain air dan pasir pantai, dijamin capek.. ;)

Perlu sedikit perjuangan dan kehati-hatian bila ingin berkunjung ke tempat ini karena akses jalan menuju pantai ini masih merupakan tanah puru (merah)  plus kubangan-kubangan air yang menganga di sisi dan tengah jalan.

aktivitas sebagian pengunjung

pohon kelapa dekat pantai

kubangan di tanah puru (merah)

2. Pantai Batu Berdaun

batu berdaun

Ada dua pantai yang mempunyai nama pantai Batu Berdaun di provinsi Kep. Bangka Belitung. Yang pertama adalah pantai Batu Berdaun yang berada di Desa Rajik Kecamatan Simpang Rimba Kabupaten Bangka Selatan dan pantai Batu Berdaun yang berada di Desa Matras Kecamatan Sungailiat Kabupaten Bangka Induk.

Saat itu yang saya  kunjungi adalah pantai Batu Berdaun yang berada di Sungailiat Kabupaten Bangka Induk, kebetulan lokasinya juga tidak terlalu jauh dengan tempat tinggal saya. Dinamakan batu berdaun karena di tidak jauh dari bibir pantai arah laut ada sebongkah gugusan batu dan sebuah pohon yang terlihat begitu kontras  tumbuh diantara bebatuan tersebut.

Pantai Batu Berdaun juga memiliki pasir putih yang luas & panjang. Di ujung kiri pantai terdapat gugusan bebatuan granit yang tertata apik menambah kecantikan pantai.

Ada sebuah dermaga labuh yang terlihat tidak terawat terlihat dari konstruksinya yang telah rusak. Dermaga ini dulunya adalah tempat tambat labuh nelayan sekitar tetapi saat ini telah beralih fungsi sebagai tempat memancing pengunjung pantai.

Fasilitas di pantai ini tergolong lengkap, bahkan dibibir pantai terlihat sedang di bangun sebuah resort yang akan semakin menambah daya tarik pantai ini. :)

sisa-sisa dermaga

menikmati sore di dermaga

hati-hati, dermaganya rusak

- ipg

25 Mei 2012 at 9:34 pm Tinggalkan Komentar

Pantai Deniang, Pesona Tersembunyi Di Balik Batuan Granit

Pantai Deniang Bangka

Minggu pagi – Langit biru, terik matahari terasa panas menandakan hari ini cuaca bakalan cerah. Bagus, berarti setumpuk cucian yang kemaren akan segera kering hari ini. ;)

Rutinitas pagi di akhir pekan sudah selesai, daripada bosan di rumah mending jalan-jalan cari udara segar main ke pantai. Aha, pantai .. selalu bersemangat kalau denger yang namanya pantai. Teringat obrolan teman-teman kemarin lusa bahwa di sebelah utara kota Sungailiat – Bangka terdapat pantai apik yang katanya masih “perawan”. Aha, makin bersemangat lagi denger kata-kata “perawan”, hehehe.. :D

Bekal perjalanan sudah siap, air mineral, roti, kamera sudah masuk kedalam tas tinggal isi bensin mumpung BBM belum jadi naik. :) Isi bensin beres kemudian si kuda besi (tapi lebih cocoknya bebek besi) kuarahkan ke arah utara kota Sungailiat masuk ke pelosok kampung melewati eks. tambang timah rakyat yang sedang di reklamasi. Satu jam perjalanan, jalan aspal yang dari tadi saya lewati terputus berganti jalan tanah merah yang terlihat licin bila datang hujan.

Satu setengah jam perjalanan, setelah bertanya beberapa kali akhirnya sampai juga ke tempat yang dituju. Pantai Deniang, itulah nama yang terucap dari seorang nelayan yang saya temui. Deniang adalah juga nama kampung dimana pantai tersebut masuk dalam wilayahnya.

Jalan masuk menuju pantai masih berupa tanah merah, tidak ada posko restribusi, belum ada fasilitas pendukung (MCK, Aula, Mushola) benar-benar masih “perawan”. Memang masih menurut seorang nelayan yang saya temui tadi, pantai Deniang masuk dalam program pengembangan potensi wisata daerah oleh Pemda Bangka yang mana fasilitas pendukung objek wisata saat ini masih dalam proses pembangunan.

Jalan tanah merah

Pantai Deniang merupakan sebuah teluk berpasir putih lembut bersanding manis dengan bebatuan granit yang menghiasi sisi-sisi pantai, sungguh kolaborasi elemen alam yang indah. Batuan granit dan pasir putih nan lembut merupakan ciri khas sebagian besar pantai-pantai di wilayah kepulauan Bangka – Belitung, seperti yang terlihat di film Laskar Pelangi.

Tipe pantai landai dengan ombak yang tidak terlalu besar, jadi jangan khawatir bila ingin berenang  atau hanya sekedar bermain dengan riak-riak ombak pantai. Satu lagi, pantai ini menghadap ke timur sehingga cocok bagi para pemburu sunrise.

note : klik untuk memperbesar

Batuan granit

Pohon diantara bebatuan

Antara aku, batu & pohon

Batuan granit tepi pantai

Puas menikmati panorama indah pantai Deniang, saya kemudian balik arah pulang ke rumah tapi sebelumnya mampir dulu di warung mie ayam pak Warno di Sungailiat mengingat perut ini tak sabar minta segera di isi. ;)

- ipg

15 Mei 2012 at 11:15 am Tinggalkan Komentar

Tulisan Lebih Lama


Arsip

Tulisan Terkini

trim's, anda tamu ke :

  • 15,371 hits

Mengenai anda

IP

tweet terbaru


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 428 pengikut lainnya.