Pulau Kemaro, Pulau Cinta di Delta Sungai Musi

1 Agustus 2012 at 5:35 pm 2 komentar

Melanjutkan cerita 3 hari di kota Palembang, destinasi berikutnya yang sempat saya kunjungi waktu itu adalah Pulau Kemaro.

pintu masuk

2.  Pulau Kemaro

Sore itu setelah puas menikmati pesona Jembatan Ampera dari tepi Sungai Musi, saya putuskan untuk lanjutkan mengunjungi Pulau Kemaro. Dermaga kecil di tepi Sungai Musi adalah awal dari perjalanan kami menyusuri Sungai Musi menggunakan speed boat menuju Pulau Kemaro. Mengapa ‘kami’ sebab saat itu saya tidak berangkat sendirian lagi karena ada satu keluarga (enam orang) yang kebetulan satu tujuan dengan saya, jadi ongkos perahu yang Rp. 150rb kita bagi dua, saya Rp. 50rb mereka Rp. 100rb (adil kan, karena mereka kan ber-enam), lumayan bisa ngirit ongkos, hehehe..😀

Tak begitu lama sampailah kami di Pulau Kamaro. Pulau Kemaro adalah sebuah delta kecil yang berada di Sungai Musi, jaraknya sekitar 10km dari  Jembatan Ampera atau 12 menit perjalanan menggunakan speed boat. Dinamakan pulau Kemaro (kemarau) karena menurut penuturan masyarakat sekitar disaat musim hujan dimana debit air sungai Musi meningkat, Pulau Kemaro tidak pernah kebanjiran.

Pulau Kemaro terlihat masih sepi, maklum karena kami berkunjung bukan di hari libur ataupun weekend. Hanya ada satu buah warung yang buka, tapi saya tetep smangat karena saya memang suka akan tempat-tempat baru apalagi yang belum pernah saya datangi.

Kesan Tionghoa sangat terasa di tempat ini, hal tersebut dapat dilihat dari dominanya warna merah di tempat ini dan juga adanya sebuah vihara umat Budha (klenteng) yang bernama Soei Goeat Kiong yang berada di kompleks wisata tersebut. Di tengah-tengah pulau adapula sebuah Pagoda 9 lantai yang menjulang tinggi sehingga terlihat begitu gagah lengkap dengan patung Budha di sekelilingnya. Tempat ini akan begitu ramai dan meriah disaat perayaan Tahun Baru Imlek.

Pagoda

patung Budha

dari atas Pagoda

Pulau Kemaro dianggap keramat oleh masyarakat setempat karena di tempat ini terdapat makam dari salah satu putri Palembang.

Menurut legenda setempat, pada zaman dahulu, ada seorang putri Palembang bernama Siti Fatimah yang disunting oleh seorang anak saudagar kaya dari daratan Cina. Sang anak saudagar kemudian mengajak sang putri pergi ke tanah Tiongkok untuk mengunjungi orang tuanya. Sekembalinya dari Tingkok sang putri di berikan 9 guci sebagai hadiah perkawinannya. Di tengah perjalanan sang anak ingin melihat isi guci pemberian sang ayah, tetapi alangkah kecewanya ketika dia membuka salah satu guci tersebut yang ternyata berisi sayuran sawi sehingga kesembilan guci tersebut langsung dibuangnya ke sungai. Tak disangka didalam guci dibalik sayuran tersebut ada hadiah lain yang berupa kepingan emas. Rasa kecewa dan menyesal membuat sang anak raja dan seorang pengawalnya memutuskan untuk menerjunkan diri ke sungai mencari guci tersebut tapi akhirnya tenggelam. Melihat suaminya tenggelam, sang putri berusaha menolong dengan ikut menerjunkan diri ke sungai tetapi ketiganya tidak pernah muncul kembali kepermukaan sungai. Sebelum melompat ke air Siti Fatimah sempat berpesan kepada para pengawalnya yang lain bahwa bila nanti dia terjun ke air dan tenggelam maka tanah yang tumbuh dimana saya tenggelam itulah tanah kuburnya.

legenda Kemaro

Di pulau ini juga terdapat sebuah pohon beringin besar yang dinamakan pohon cinta, konon bila ada seorang bertemu lawan jenis di bawah pohon ini maka mereka bisa berjodoh. Solusi bagi para jomlowan dan jomblowati yang kesulitan mencari pasangan, bisa datang ketempat ini.  ;)

pohon besar

Secara keseluruhan pulau ini menarik, hampir semua bangunan yang ada di tempat ini menggunakan arsitektur Tionghoa. Tempat bermain anak juga tersedia di sini, tapi sayang ketersedian toilet yang banyak terkesan kurang terawat. Salah satu masukan bagi pengelola untuk selalu menjaga kebersihan.

pintu keluar

speed boat kami

Tak terasa senja sudah menjelang, matahari sudah berwarna kemerahan bersiap pulang keperaduan. Kamipun memutuskan untuk pulang. Speed boat melaju kencang membelah arus Sungai Musi menuju dermaga kecil di samping Jembatan Ampera. Badan terasa lelah tapi puas bisa lebih mengenal kota Palembang.

Bersambung.. cerita malam kota Palembang,

– ipg

Entry filed under: Curhat, Informasi. Tags: , .

Menikmati Pesona Kota Palembang Pantai Pok Tunggal, Kolaborasi Alam Yang Mempesona

2 Komentar Add your own

  • 1. annosmile  |  9 Januari 2016 pukul 6:42 am

    tempatnya bersih..hihihi..
    menarik juga..ga perlu jauh-jauh keluar negeri

    Balas
    • 2. masipoeng  |  21 Juni 2016 pukul 10:49 pm

      Negeri kita banyak yang indah2

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Arsip

Pos-pos Terbaru

Statistik pengunjung

  • 48,375 hits

Mengenai anda

IP

tweet terbaru


%d blogger menyukai ini: