Nostalgia Ceria Bermain Layang – Layang

31 Januari 2015 at 3:57 am 5 komentar

image

Teet.. teett.. suara alarm tanda pulang kerja telah berbunyi, walau terdengar agak sember disore itu tapi itulah suara yang paling ditunggu oleh seorang karyawan seperti saya. Segera kukemasi barang dan bersiap pulang ke tempat kost.

Sepeda motor berjalan santai menyusuri jalan pinggiran kota. Sore itu langit terlihat cerah, semilir angin terasa sejuk menembus jacket hitamku. Tiba-tiba didepan terlihat beberapa anak sedang berlarian sambil kepalanya menengadah keatas sepertinya sedang berlomba mengejar sesuatu. Ternyata anak-anak tersebut sedang mengejar layang-layang putus. Mereka berlarian kesana kemari mengikuti arah layangan yang terbawa angin tanpa memperdulikan lalu-lalang kendaraan yang melintas.

Langsung saja kupelankan laju sepeda motor. Tentu saja ini berbahaya bagi mereka tetapi yang namanya anak-anak bila telah asik dalam dunianya kadang susah untuk dibilangin. Kalau sudah dalam situasi seperti ini kitalah yang harus dituntut lebih berhati-hati.

Melihat tingkah polah mereka saya jadi teringat masa kecil saat bermain layang-layang. Bermain layang-layang juga mengenal musim. Musim bermain layang-layang biasanya terjadi pada saat musim kemarau dimana tidak ada hujan dan angin yang cukup kencang sehingga memudahkan untuk menerbangkan layang-layang.

Dulu ada 3 cara saya untuk dapat memiliki layang-layang, yaitu :
1. Membeli di toko
2. Mendapatkan gratis dari hasil mengejar layangan putus
3. Membuat layangan sendiri

Karena saat itu uang jajan sekolah yang terbatas dan selalu habis buat jajan di sekolah maka biasanya saya mendapatkan layang-layang dari hasil mengejar layangan putus.

image

Di saat musim layangan, mengejar layang-layang putus sudah menjadi kegiatan rutin selepas pulang sekolah. Tanpa mengenal lelah, lapar dan kulit yang menghitam kita berlarian berlomba demi mendapatkan sebuah layang-layang.

Untuk anak yang kalah dalam tinggi badan biasanya menggunakan strategi dengan membawa ranting atau bambu panjang agar menang dalam perebutan layangan.

Beradu layang-layang juga tidak kalah mengasikkan. Berbekal sebuah layangan dan benang gelasan yang tajam, di sore hari saya biasanya beradu layangan di lapangan “Tribrata” (sekarang kompleks pasar Besole Baleharjo). Dulu merk andalan yang sering saya gunakan adalah layangan “cipacing” (dan ternyata itu adalah nama sebuah desa pengrajin layang-layang di Jawa Barat) juga benang gelasan cap “gajah” dan “kampak” karena terbukti sering menang dalam beradu.

Ada trik-trik sendiri dalam beradu layangan. Benang gelasan yang tajam, layangan yang stabil dan kelihaian dalam tarik ulur benang menjadi kunci kemenangan. Bila benang dipasaran dirasa kurang tajam biasanya kita membuat benang gelasan sendiri dengan menambah bubuk kaca halus agar lebih tajam tetapi resikonya bila kita tidak hati-hati jari kita bisa tergores. Ada juga yang mengaitkan pisau silet di ujung benang dengan harapan bila benang lawan mengenai pisau silet tersebut bisa langsung putus. Ada rasa kebangaan sendiri bila kita menang dalam adu layangan apalagi bila lawan kita lebih dewasa dalam umur.🙂

Saat ini ruang terbuka untuk bermain layang-layang sudah terbatas khususnya di kota-kota besar. Ruang terbuka yang biasanya digunakan anak-anak bermain sudah hilang digantikan dengan gedung-gedung bertingkat yang berdiri angkuh merebut kecerian mereka.

Anak-anak sudah mulai kesulitan menemukan ruang bermain sehingga tidak sedikit untuk memilih jalanan sebagai gantinya. Tentu ini sangat berbahaya bagi mereka tetapi memang tidak ada pilihan lain.

image

Semoga pemerintah dan masyarakat peka dalam hal ini bahwa anak-anak juga memiliki hak untuk bermain. Mereka membutuhkan ruang terbuka untuk bisa bermain dan menikmati masa-masa indah anak-anak yang akan menjadi bekal mereka dikemudian hari.

(ipg)

Entry filed under: Curhat, Informasi. Tags: .

Menanti Senja Embung Nglanggeran Mudik lagi, ayo mudik lagi…

5 Komentar Add your own

  • 1. annosmile  |  3 Mei 2015 pukul 9:40 pm

    jaman sekarang sudah jarang liat anak2 bermain di luar rumah
    hmm jadi inget masa kecil juga😀

    Balas
    • 2. masipoeng  |  4 Mei 2015 pukul 12:05 am

      Sekarang layangan kalah sama gadget,
      Prihatin sama mainan anak2 jaman sekarang😦

      Balas
    • 3. masipoeng  |  8 Juni 2015 pukul 10:55 pm

      Pernah main layangan, berarti masa kecil anda begitu bahagia, sama seperti saya hehee🙂

      Balas
  • 4. heru  |  8 Juni 2015 pukul 10:12 pm

    iya mas sekarang memang sudah jarang anak-anak bermain layangan, jadi inget masa lalu waktu kecil.artikel nya juga sangat bagus.

    Balas
    • 5. masipoeng  |  8 Juni 2015 pukul 10:47 pm

      Beda dulu beda sekarang mas, gadget sudah merubah semuanya, ngelus dada😦

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Arsip

Pos-pos Terbaru

Statistik pengunjung

  • 48,375 hits

Mengenai anda

IP

tweet terbaru


%d blogger menyukai ini: