Sapi “Rojo Koyo” Masyarakat Desa

18 Juni 2011 at 11:53 pm 4 komentar

Semenjak – pemerintah Australia menghentikan kebijakan ekspor sapi ke Indonesia sentra tenak sapi di daerah (desa) terlihat mulai bergairah kembali. Setelah mengalami keterpurukan harga kini perlahan harga sapi mulai naik (normal) kembali seiring mulai tingginya permintaan sapi lokal. Walaupun cuma punya satu ekor sapi yang ada dikandang belakang rumah tapi saya ikut senang mendengar berita tersebut. 🙂

Bagi masyarakat desa, ternak sapi merupakan “rojo koyo” yaitu salah satu harta yang dapat dijadikan penghidupan/ sandaran hidup selain bertani sehingga pada saat terjadi penurunan harga sapi yang cukup drastis besar pengaruhnya pada pendapatan masyarakat desa.

Tidak terbayang bila pengorbanan masyarakat desa yang selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun tiap pagi dan sore pergi ke sawah/ ladang mencari sekeranjang pakan ternak dengan harapan agar ternak semakin besar dan mendatangkan keuntungan tetapi setelah sapi dijual hasilnya merugi.  😦

Di daerah Gunungkidul sebagian besar masyarakat desanya memelihara sapi sehingga menjadikan daerah pemasok daging sapi terbesar di DIY. Memelihara sapi bukan berarti memiliki sapi karena ada sebagian masyarakat desa yang kurang mampu untuk membeli sapi memelihara sapi milik orang lain dengan sistem bagi hasil keuntungan penjualan.

Sudah saatnya kita tidak bergantung lagi kepada impor sapi di masa mendatang untuk memenuhi kebutuhan daging sapi dalam negeri. Melalui kebijakan perbaikan sistem peternakan sapi di dalam negeri diharapkan sektor peternakan sapi dapat lebih berkembang.

Seharusnya kita lebih fokus ke dalam untuk mengembangkan kemandirian di bidang produksi sapi dalam negeri menuju pada swasembada daging sapi. Pada intinya kita harus mampu memasok kebutuhan daging sapi dalam negeri dan lepas dari ketergantungan luar negeri, tidakkah lebih baik demikian..

(ipg)

Entry filed under: Curhat, Informasi. Tags: , , .

Perjalanan Panjang Menuju Kampoeng Halaman Laga PS. Bangka vs Persib Bandung

4 Komentar Add your own

  • 1. Mabruri Sirampog  |  19 Juni 2011 pukul 7:56 am

    setuju mas,
    lah wong katanya negara kita ini tanahnya subur, makmur ko ya apa2ne msh aja ngimpor., mending duit yg buat ngimpor dipake buat peningkatan mutu dalam negeri…

    Balas
    • 2. masipoeng  |  19 Juni 2011 pukul 10:40 am

      subur makmur tp blm maksimal pemanfaatannya…

      Balas
  • 3. isnanamaxu  |  21 Juni 2011 pukul 6:54 pm

    GK jadi pemasok terbesar daging sapi di DIY… tapi harganya kok tetap mahalll yah?😀

    Balas
    • 4. masipoeng  |  22 Juni 2011 pukul 8:21 pm

      harga daging ngikutin harga pasar mb, klau pas murah ya murah klau pas mahal ya muahall..🙂

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Arsip

Pos-pos Terbaru

Statistik pengunjung

  • 48,375 hits

Mengenai anda

IP

tweet terbaru


%d blogger menyukai ini: