Pasar Tradisional Refleksi Kehidupan Pedesaan

17 Mei 2011 at 11:50 pm 6 komentar

Sesuai rencana yang telah kami sepakati sebelumnya, jadwal pagi ini adalah mengantar kakak ipar pergi belanja ke pasar tradisional Sungailiat. Pagi Jam 05.00 teet kami sudah berangkat menuju pasar. Kami harus berangkat pagi-pagi bila ingin mandapatkan sayur-sayuran yang masih segar.

Suasana hari ini cukup ramai dikarenakan hari ini kalender menunjukkan angka merah yang menandakan hari libur. Pasar tradisional di Sungailiat ini memang akan cukup ramai di saat hari libur. Ini berbeda dibandingkan pasar tradisional di daerah Jawa.

Di  daerah Jawa pasar tradisional mempunyai hari pasaran tersendiri menurut perhitungan penanggalan Jawa (wage, kliwon, legi, paing dan pon). Pada hari-hari biasa pasar tradisional terlihat agak sepi dan  akan terlihat sangat ramai bila telah tiba hari pasarannya.

Keramaian pasar tradisional dimulai dari fajar hingga pagi menjelang siang (jam 04.00 s/d jam 10.00). Berbagai barang dagangan khas pasar tradisional seperti hasil bumi/ palawija, sayur-sayuran hingga jajanan pasar dapat dengan mudah kita temui. Berbeda dengan pasar modern yang sebagian besar menjajakan barang produk hilir yang serba instan.

Bukan hanya pedagang lokal saja yang ikut meramaikan pasar tapi para pedagang nomaden dari berbagai daerahpun akan ikut berdatangan berkumpul menjajakan dagangannya. Para pedagang lintas daerah ini biasanya sudah hafal dan paham betul daerah, lokasi dan pasaran pasar-pasar tradisional dimana ia akan berjualan.

Suasana hiruk pikuk antar penjual & pembeli yang sebagian besar warga pedesaan akan selalu ada setiap hari pasaran di pasar tradisional. Obrolan hangat diselingi guyonan renyah penuh keakraban ala warga desa turut mewarnai keramaian pasar tradisional. Suasana inilah yang saya temui di pasar tradisional Paliyan Gunungkidul Yogyakarta Februari 2011 silam.🙂

Situasi pasar tradisional yang demikian merupakan refleksi dari kehidupan pedesaan yang masih menjunjung tinggi sikap toleransi, kerukunan & kegotong-royongan dibalut kesederhanaan di dalam kesehariannya.

Tetapi kondisi pasar tradisional saat ini sudah semakin terancam kelasungannya. Hal itu disebabkan, semakin berkembangnya jumlah pasar modern yang rata-rata sifatnya waralaba serta perubahan pola pikir masyarakat modern yang selalu akan mencari sesuatu yang bersifat modern dan meninggalkan segala sesuatu yang bersifat tradisional.

(ipg)

Entry filed under: Oase. Tags: , .

Sepenggal Kalimat Nyleneh di Bak Truk Road Race Balap Senggol Ajang Adu Nyali

6 Komentar Add your own

  • 1. Mabruri Sirampog  |  18 Mei 2011 pukul 7:19 am

    harusnya dijaga kelestarian pasar tradisional, dan bagi pemerintah harus bisa bertindak tegas dengan tidak diperbolehkannya membangun pasar2 modern yang jraknya berdekatan dengan pasar tradisional..

    Balas
  • 2. masipoeng  |  18 Mei 2011 pukul 10:50 am

    saya setuju mas, harusnya ada regulasi yg jelas dari pemerintah yang mengatur keberadaan pasar modern untuk menjaga kelangsungan pasar tradisional,..

    Balas
  • 3. giewahyudi  |  18 Mei 2011 pukul 4:37 pm

    tapi sekarang serangan farnchise sudah membahayakan,.

    Balas
    • 4. masipoeng  |  18 Mei 2011 pukul 11:25 pm

      itu juga salah 1 yang harus diwaspadai…

      Balas
  • 5. niQue  |  19 Mei 2011 pukul 5:52 pm

    kembali lagi ke masyarakatnya : D
    karena kalo mau melestarikan pasar tradisional, bukannya tergantung sama yang belanja?

    Balas
    • 6. masipoeng  |  19 Mei 2011 pukul 9:14 pm

      oleh karena itu perlu pemahaman pola pikir masyarakat bahwa embel2 modern tidak slalu lebih baik dari yang tradisional.. 😉

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Arsip

Pos-pos Terbaru

Statistik pengunjung

  • 48,375 hits

Mengenai anda

IP

tweet terbaru


%d blogger menyukai ini: