Seni Tradisi Reog Dhodhog Gunungkidul

29 Maret 2011 at 4:42 pm Tinggalkan komentar

Reog Dhodhog – dari Piyaman Gunung Kidul sebagai salah satu seni tradisi yang hampir punah kembali dihadirkan dalam pertujukan Seni Tradisi Sepanjang Tahun di Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Tarian tradisional yang mistis ini biasanya dipertontonkan pada acara Rasulan yang digelar masyarakat Gunung Kidul sebagai ucapan syukur atas keberhasilan panennya.

Koordinator Reog Dhodhog, Sumarwan menjelaskan tarian ini lebih dikenal dengan nama Reog Dhodhog Bergodo yang ditarikan 26 penari yang berpakaian prajurit ala tempo dulu baik tua maupun muda dan merupakan tarian perang mistis yang wajib ditarikan setiap ada peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW atau Rasulan setahun sekali.

“Tarian ini wajib ditarikan karena merupakan wujud tarian rasa syukur atas limpahan rejeki dari Tuhan Yang Maha Esa dengan hasil panen yang mencukupi bagi warga Gunung Kidul setiap tahunnya, jika tidak dipentaskan niscaya akan ada musibah atau kejadian buruk yang menimpa warga,” paparnya.

Mengenai ceritanya sendiri, dikatakanya berasal dari kisah perang kerajaan yang dulu ada di Gunung Kidul yaitu antara Kubu Demang Woni Pawiro melawan kubu Demang Ronggo Senang yang kala itu memperebutkan daerah kekuasaan Kademanangan di Kota Wonosari dengan menggunakan tombak tradisional bernama Rotek maka tarian ini disebut Reog.

“Sedangkan untuk dodhognya sendiri berasal dari alat musik yang digunakan yang menyerupai kendang namun hanya satu sisi saja yang berbunyi dhodhog maka disebut Reog Dhodhog,” imbuhnya.

Iringan yang digunakan menggunakan iringan tradisional klasik yang menggunakan alat-alat musik sederhana seperti dhodhog, gong, bendhe, angklung dan jogo yang hanya dimainkan oleh 5 orang pengrawit. “Ada juga Reog Dhodhog kreasi baru yang biasanya ditarikan anak muda, musiknya juga musik kreasi, namun kali ini yang ingin dipentaskan adalah Reog Dhodhog yang benar-benar asli yang berdurasi 30 menit” paparnya.

Diharapkan dengan adanya pertujukan seni tradisi reog Dhodhog yang kini tidak diminati anak muda ini dapat mengajak generasi muda untuk mencintai kesenian tradisionalnya. “Para generasi muda di desa saya tidak jalan atau tidak mau menarikan tarian ini yang kini hanya ditarikan orang tua saja, padahal dengan menarikan tarian ini mereka dapat nguri-nguri budaya,” pungkasnya.

(KRjogja.com)

Entry filed under: Seni Budaya. Tags: , , .

Sego Kucing Dengan Segala Keunikannya Gudeg Mercon Bu Ngatirah, Nendang Pedasnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Arsip

Pos-pos Terbaru

Statistik pengunjung

  • 48,375 hits

Mengenai anda

IP

tweet terbaru


%d blogger menyukai ini: