Mbah Boncel Ngontel Gowes Keliling Indonesia

11 Februari 2011 at 12:33 am Tinggalkan komentar

TETAP Semangat, hanya itu yang ada di dalam dada Mbah Boncel (56) alias Supriyanto, Warga Dusun Mangiran, Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul ini mengelilingi Indonesia dengan mengayuh sepeda kesayanganya.

Bukan perkara mudah untuk keliling Indonesia dengan sepeda. Terlebih, Mbah Boncel tidak mengenal medan yang bakal dihadapi, ataupun tahu jalan yang akan ditempuh. “Hanya berdoa dan bertekad, pasti semuanya ada jalannya,” ujarnya kepada KRjogja.com, saat singgah di Purworejo, dalam perjalanannya dari Yogyakarta menuju Bukitinggi Sumatera Barat, Selasa (21/12).

Mbah Boncel menuturkan  sudah dua kali tur keliling Indonesia, yakni pada tahun 2006 dan 2010. Selama perjalanan berbulan-bulan itu, ia dipastikan tidak pernah bebas menghadapi kendala. Dalam ribuan kilometer jarak yang sudah pernah ditempuh Mbah Boncel, terselip berbagai peristiwa, bahkan hingga mengancam keselamatan jiwanya.

“Saat melintas di Lhokseumawe Aceh, tahun 2006 lalu, tentara GAM menyandera saya. Mereka menuduh saya adalah mata-mata TNI,” tuturnya.

Namun, kelihaiannya dalam memanfaatkan kelengahan GAM, membuatnya selamat, dan kembali melanjutkan perjalanannya pulang ke Pulau Jawa. Saat mereka lengah, Mbah Boncel berhasil kabur, sehingga sekarang bisa pulang dan kembali berpetualang dengan sepeda.  Bahkan, saat berada di Mamuju Sulawesi Barat pada tahun 2007, ia juga jadi korban perampokan. Namun, pelaku akhirnya melarikan diri dengan meninggalkan sepeda dan bekal yang dibawanya.

“Ada gunanya keliling Indonesia dengan hanya membawa sedikit uang, baju seadanya, juga peralatan untuk memperbaiki sepeda. Jadi, perampok juga tidak akan berminat mengambilnya,” terangnya.

Kendati demikian, bukan berarti Mbah Boncel terlunta-lunta saat menjalani tournya. Ia selalu bisa makan tiga kali sehari selama melangsungkan perjalanan. Hanya saja, lelaki beranak dua itu harus rela tidur di SPBU yang dilewati. “Asalkan tidak malu, pasti bisa makan. Namun, kadang ada satpam restoran yang membentak-bentak, karena melihat penampilan saya yang kumal. Bahkan, orang kerap menganggap saya ini kurang waras,” bebernya.

Mbah Boncel bercerita untuk menempuh jarak sekitar 2.130 kilometer dari Yogyakarta menuju Bukitinggi,  akan mengayuh sepeda mulai jam 06.00 hingga 20.00 setiap hari. Tentunya, jika lelah mendera akan beristirahat. Namun, jika hujan turun, ia akan nekat mengayuh sepedanya. Uniknya, selama ini tidak bernah sakit meski harus menggenjot sepeda ribuan kilometer.

Lantas, bagaimana jika sepdanya mengalami kendala saat perjalanan?. Mbah Boncel berusaha memperbaikinya sendiri dengan peralatan yang ia bawa. Dan, selalu saja ada orang yang membantu saat ia mengalami masalah dengan sepedanya. Karena itu, tantangan selama mengayuh sepeda, tidak menyurutkan semangat Mbah Boncel untuk keliling nusantara.

“Saya hanya punya tekad, dan mimpi, kemudian berusaha mewujudkannya. Ternyata, sudah dua kali berhasil keliling ke setidaknya 32 provinsi di seluruh Indonesia,” imbuhnya.

Bahkan, Mbah Bonce; masih menyimpan mimpi untuk mengayuh sepeda keliling negara-negara Asia Tenggara. Ia bermimpi untuk mengunjungi Philipina, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan Thailand. Negara tetangga ini menurutnya memiliki karakteristik serupa dengan Ibu Pertiwi.

– Jarot Sarwosembodo

Entry filed under: Oase. Tags: , .

Pantai Kukup Jadi Proyek Percontohan Melacak Manusia Purba Gunung Kidul

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Arsip

Pos-pos Terbaru

Statistik pengunjung

  • 48,375 hits

Mengenai anda

IP

tweet terbaru


%d blogger menyukai ini: