Nasi Bungkus Rasa Gugur Gunung Hidupkan Seni Untuk Publik

13 Januari 2011 at 9:53 am Tinggalkan komentar

YOGYA (KRjogja.com) – Terinspirasi dari semangat Gugur Gunung atau kegotongroyongan masyarakat DIY menghadapi setiap bencana alam yang menimpa DIY, perupa Yogyakarta Budi Ubruk membuat patung nasi bungkus dengan ukuran raksasa yang diletakkan di depan Monumen Serangan Oemoem 1 (SO1) Maret Yogyakarta. Sebelumya patung ini diusung oleh Bregodo Lombok Abang dari Taman Budaya Yogya menuju ke Monumen SO1 Maret Yogyakarta.

Sementara beberapa pedagang gendong asal pasar Beringharjo, Jumat (7/1) pukul 15.00 WIB juga ikut membagi nasi bungkus kepada warga Yogya yang lalu lalang.

Sebagaimana lazimnya nasi bungkus, patung ini memperlihatkan pula adanya daun pisang dan potongan koran yang memuat foto Sri Sultan Hamengku Buwono X berikut statement-nya menyangkut soal tudingan monarkhi. Ada pula gambar walikota Yogya, Herry Zudianto serta Komandan Kodim Yogya Letkol Anwar Aruji yang menyertai berita lainnya, yakni erupsi Merapi.

Budi Ubruk mengungkapkan karya instalasi patung nasi bungkus ini terinspirasi dengan munculnya rasa kegotongroyongan, gugur gunung atau menunjukkan keguyubrukunannya warga Yogya yang muncul belakangan ini ketika ribuan warga lereng Merapi mengungsi pada 5 November 2010. Pada waktu itu beredar SMS di kalangan warga Yogya yang isinya mengajak untuk menyediakan nasi bungkus yang kemudian disalurkan ke para pengungsi karena para petugas dapur umum belum mampu menyediakan mengingat harus ikut mengungsi pula. Hanya selang beberapa jam saja, ribuan nasi bungkus disertai minuman berdatangan di barak-barak pengungsian.

“Saya berusaha untuk mengapresiasi gugur gunung atau rasa solidaritas yang begitu tinggi yang dipunyai warga Yogya selama ini yang saya wujudkan dalam karya saya. Dan karya saya ini saya persembahkan untuk warga Yogya agar terus dikenang, serta semangat solidaritasnya terus dibina, dipertahankan sepanjang masa di tengah-tengah kehidupan yang semakin hedonis ini,” paparnya.

Karya Ubrux memang sangat relevan karena untuk kesekian kalinya, Yogyakarta menunjukkan pada Indonesia warna solidaritas mereka. Saat gempa bumi melanda Yogyakarta pada 27 Mei 2006, warga di berbagai kampung di wilayah DIY juga ramai-ramai memasak nasi bungkus dan membagikannya kepada para korban. Hal itu berlangsung selama berhari-hari. (Fir)

Entry filed under: Seni Budaya. Tags: .

Ciri Hobi Yang Dapat Jadi Inspirasi Usaha Belalang si pembawa rezeki

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Arsip

Pos-pos Terbaru

Statistik pengunjung

  • 48,375 hits

Mengenai anda

IP

tweet terbaru


%d blogger menyukai ini: